Jagung manis segar ku congkel
Berbekal sebilah pisau
Ku congkel satu persatu biji
Dengan ujung lancipnya
Satu baris dari depan ke belakang
Selesai satu baris
Ku selipkan bilah tajam pisau
Antara baris dua dan tiga
Sekali congkel lima biji terlepas
Satu baris dari depan ke belakang
Selesai baris ke dua
Terus hingga tersisa baris terakhir
Ku istirahatkan pisau
Jempol ku sulap bak senjata
Tumbang lah barisan terakhir
Memang tak secepat menyisir
Sabar dan telaten sedikit
Sederhana..
Tuk bonggol bersih ringan
Butir jagung segar utuh
Senin, 22 Juni 2015
Tak hilang terbuang
Minggu, 21 Juni 2015
Baru
Hitam mulus tak bergelombang
Muda umur mu
Belum terhiasi putih bergaris
Kau biarkan anak-anak bersepeda
Kencang melaju
Asik tak terusik di pagi hari ramadhan
Bagai balap liar jalanan
Jalanan aspal baru
Depan rumah ku
Yang izinkan tua renta berjalan
Tanpa trotoar
Senin, 15 Juni 2015
(Anak) Ayam Hutan
Bulan Juni saat itu
Sudah beberapa minggu
Sejak ayam hutan ku bersemedi
Hangatkan 7 sisa telurnya
Pagi tanggal 10
Keluar 3 anak ayam dari cangkangnya
Kuanggap hadiah hebat
Terlepas lewat sudah hari berulang tahun
Bulu nya coklat
Loreng hitam di kepala dan punggung
Bukan sembarang tanda
Khas anak ayam hutan
Oranye kecoklatan
Kecil kakinya
Lebih banyak duduk
Mencari kehangatan
Tak henti bercuit
Selalu mencoba berlari
Kelak engkau besar busungkan dada
Kepakkan sayap memulai pagi
Kopi susu
Asap putih sudah mengebul
Suara dalam teko bergemuruh
Kuangkat tuang dalam gelas
Menyatukan kopi gula 3:1
Tambah susu
Tertinggal sebagian ampas
Menempel juga di leher sendok
Perlahan jatuh ke dasar
Mengendap selapis hitam
Untuk coklat muda menggoda
Sruput kecup menyambut
Pahit manis luar biasa
Jembatan
Biar saja
Jalanan berlumpur
Biar saja
Kupakai jalan sawit
Biar saja
Motor ku tak ber rem tangan
Biar saja
Lubang besar
Biar saja
Debu perih terkena mata
Biar saja
Selama 2 jam perjalanan
Biar saja
Hingga menjadi sejarah kelak
Kala janji terwujud
Juang penghunimu
Di hutan itu
Di segunduk bukit
Secuil pepohonan
Dikelilingi kebun sawit
Ku tinggal
Ku bekerja
Tak terasa
Hari, minggu, bulan berlalu
Hingga tiba saat kembali
Kenangan manis haru
menginspirasi
Lestari dalam hati