Lebaran ku seduh kopi susu
Gelas kecil bening terik siang itu
Tergoda ikut jeruk peras segar merayu
Manis pahit sang kopi kedipkan mata
Genit terpinang sudah, ku tak lagi puasa...
Opor berpadu ketupat
Lontong hangat sambal goreng ati
Potong kecil-kecil sajikan meja bundar
Kerupuk udang, bubuk kedelai, mau apa lagi
Berkumpul lengkap bak kami keluarga kecil
Bapak, ibuk, kakak, adik
Nikmati saja.. dan tersenyum
Jogja, 25 Juni 2017
Minggu, 25 Juni 2017
Kopi Ketupat
Selasa, 20 Juni 2017
Kembali(mu)
Waktu kau tempuh jauh
Lima jam laju ke kota dari kau tinggal
Terbang dua kali sampai kampung kemudian berganti hari
Sekardus oleh-oleh tersangkut di tangan kiri
Ransel dan tas samping penuh kau bawa
Berharap asa bahagia di kampung halaman
Berangan tawa bahagia duduk bersama
Kembali...
"Ini tempat ku kembali", kau ucap
Bertambah senyum, berbinar kedua mata
Mungkin akan kau buat sebuah tema sajak cermin diri
Tak sabar menunggu sampai, hingga makan pun kau anggap menunda
Dia tak sendiri, beribu orang tak jauh beda
Berjubel ke kampung halaman
Minggu, 18 Juni 2017
Berteman sepatu
Aku masih berteman dengan sepatu kulit ku
Yang selalu kupakai dengan nyaman kemanapun
Aku masih berteman dengan sepatu kulit ku
Yang selalu kupakai bersanding kaos kaki biru se mata kaki
Aku masih berteman dengan sepatu kulit ku
Yang sol nya mulai menipis di tepian nya
Aku masih berteman dengan sepatu kulit ku
Yang coklatnya mulai pudar memucat bercampur debu
Aku masih berteman dengan sepatu kulit ku
Yang bak bertali mati dan bagian belakang nya tertekuk ke dalam
Aku masih berteman dengan sepatu kulit ku
Buatan tangan pengrajin daerah manding jogjakarta
Aku masih berteman dengan sepatu kulit ku
Yang ku beli bersama kawan lama dengan berboncengan motor bebek
Aku masih berteman dengan sepatu kulit ku
Yang lebih dari 5 tahun bersama
Nyaman dan belum terganti
Sabtu, 17 Juni 2017
Cicak kecil
Disela kursi panjang berbahan kayu sengon
Mengintip sepasang mata kecil
Tak malu muncul menyembul moncongnya ke atas
Kulitnya bersatu dengan warna kursi yang dicat coklat tua
Diam menunggu menanti, berangan lalat kecil lewat
Sesekali mata berkedip sebelah..
Bertoleh kekanan lalu diam mematung
Menanti lalat tak datang, semut hitam melintas
Gesit lidah cicak merampas, apes si semut
Penasaran ku dekati..
Masih diam, lalu lari menjauh
Sembunyi, lupa ekor terlihat
Sabtu, 03 Juni 2017
Seruling dan Pak Tua Menari
Laju motor siang itu..
Agak kencang sepulang dari kota
Berkelok jalan kecil tanda sampai desa beraroma kota
Aspal berbatas tanah berumput lebat
Kanan kiri rumah kecil berselang hamparan sawah
Hijau hijau belum lama tertanam
Disuatu pengkolan tajam
Terparkir motor bebek hitam lusuh
Tak bersepion
Dilengkapi karung dan arit tertali keret ban dalam bekas
Sang Empu asik berjoget berdiri
Tak jauh dari motornya, di pinggiran sawah
Sembari meniup seruling bambu ke samping kanan
Tangannya bermain, membentuk nada menghasilkan bunyian khas
Terus begitu, asik sendiri menikmati
Ku terus melaju dengan motorku
Menyusuri beberapa kelokan lagi
Sampai rumah kecil pinggir jalan aspal
Abadikan dalam sajak
Jogja, Juni 2017