Rabu, 30 November 2016

Ayam & cacing

Ini hari kamis..
Ayam hutan ku tinggal se ekor
Pun kelas masih anak ayam

Semalaman ku tidurkan dalam kardus camilan
Anteng si ayam mungkin tak kedinginan
Walau sesekali bergerak meronta, mungkin pegal

Pagi buta dia keluar..
Berkeliaran tak jelas kemana
Sendirian

Pagi terang kulepaskan depan halaman
Lari si ayam serasa bebas
Bertemu dengan ayam kampung lainnya

Pagi ini habis hujan
Tanah masih basah
Laron satu dua muntjul
Di rebut berlarian ayam kampung

Si anak ayam meminum air
Air genangan diatas daun jati yang jatuh
ku ambil si anak ayam

Ku buka rebahan kayu mati
Rayap, cacing, uret, semut dan laba-laba
Lahap dimakan hingga habis

Dua kali ini ku lihat
Ayam memakan cacing..
Satu, anak ayam pedaging
Dua, ini si anak ayam hutan


Minggu, 13 November 2016

Penyegaran

Tak tenang kadang
Khawatir yang berlebih
Selalu terbayang

Kadang cinta butuh pengalih
Kadang pula butuh penyadar
Karena ia kuat, lebih kuat dari meriam

Kendali selalu pada ketenangan berpikir
Nol kan tubuh sehatkan pikiran
Jadikan ia semangat dan hal baik


Jumat, 28 Oktober 2016

Hati

Kebimbangan
Seolah tak lepas dari dunia
Hijau pun bisa berubah cokelat
Abu abu jadi merah terang merona

Waktu
Jangan bermain dengan waktu
Sesuatu yang tak bisa engaku kejar
Tanpa sebuah tujuan yang jelas
Tak pula bisa kau mundurkan

Perubahan selalu terjadi
Kebimbangan awal dari perubahan
Diikuti suatu langkah tindakan

Gagah cantik cerdas pintar
Kaya sederhana Angkuh welas asih
Diam bergerak pergi kembali
Baik buruk tutur kata pemikiran
Perubahan pembelajaran

Hidup
Menjadi lebih baik
Bermanfaat
Bersyukurlah


Kamis, 13 Oktober 2016

Kenangan

Mendadak teringat kembali
Kenangan lama..
Berpadu dengan bayang masa kini
Tergambar seolah hidup

Tawa canda senyum
Kata manja
Bahagia
Bersama

Kesendirian hilang
Bersama dalam suka dan duka
Marah nakal dan perasaan aneh lainnya
Belajar bersama

Kenangan
Tak pernah hilang
Bersahabatlah engkau


Minggu, 11 September 2016

Hari kurban

Berjalan kaki orang-orang samping rumah
Jalan besar menuju sekolah
SD kampung lapangan luas

Alas tikar alas koran
Berjajar duduk rapi pagi hari
Langit cerah semua tau

Dua burung gereja terbang hinggap
Dipohon kelengkeng yang rindang
Menoleh ke atas kebawah
Seolah ingin tau kenapa semua berkumpul

Selesai jamaah lanjut berkhutbah
Panjang lama eh apa yang dibaca
Tak jelas mungkin si bapak ragu
Ini kurban bukan haji


Sabtu, 07 Mei 2016

Sebuah mess

Tiba2 rumah atau mes itu menjadi bagus
Kamarnya banyak pun jendela kacanya
Tembok berwarna hijau pucat, dengan hijau tua pada jendela, pintu, dan hisan tiang

Penghuninya tak ada
Tertinggal beberapa anak muda yang belum kukenal
Ada pula sepasang suami istri, walau agak meragukan

Sembari ku bertanya dan mengamati sekeliling
Kilat menyambar, langit mulai gelap
Paralon paralon air bermunculan di atas pohon kelapa
Bersuara berisik, lalu memancarkan air
Terjadi hujan lokal buatan
Semakin lama semakin deras

Muncul pak tua, berdoa khusuk
Reda hujan dan kembali terang
Ada apa ini?
Lalu muncul sosok orang berambut panjang dengan badan kekar tinggi
Masuk ke mess

Pak tua berkata.. "tidak papa, ini hanya masalah kumat"
Paranormal ilmu hitam yang sedang kumat ingin menguji ilmunya

Lalu ku tanya pada pria berambut panjang itu
"Kenapa tidak kau lawan saja pak tua itu?"
Dia hanya menggeleng seperti mengakui pak tua bukanlah tandingannya

Mess sudah tak gelap seperti dulu..
Tetapi lingkungannya malah yang berubah menjadi gelap tak baik
Segala tindakan penuh pertanggungjawaban
Percaya minimal itu menjadi cerita masa lalu mu


Selasa, 03 Mei 2016

Bayangan hidup

Hahaha..
Sebuah tawa palsu mencoba memecah kesunyian
Hati sepi walau jalan penuh gemuruh knalpot

Hei ini kah diri mu
Yang masih menikmati bayangan tak nyata
Itu masa lalu..
Mungkin engkau tak melihat dia yang dihadapmu
Lebih terang dari hanya sekedar bayangan

Ah ini aku yang tak seimbang
Yang berat pada bayangan
Yang diam tak tau berkata
Yang hanya memandang
Yang selalu coba berpaling

Diriku yang lain mulai berkata
Engkau pasti bisa
Jalanmu masih lebih baik dari orang lain
Engkau fokuskan tujuan mu
Engkau tarik dirimu pada terangnya sinar pagi
Engkau tak seharusnya berkecil hati
Engkau pantas bahagia

Hingga ku terlelap
Besar harap esok pagi
Hidupku..


Jumat, 01 April 2016

(Masih) Ceritamu

Mereka mulai bercerita tentang mu
Seolah aku tak tau dan belum tahu
Aku hanya bisa diam
Sesekali menyeruput air mineral gelas
Apalah aku ini tak berdaya
Kupikir menimpali cerita mereka pun bisa berakhir dengan pertanyaan di benak mereka
Hanya bisa terdiam dan semakin kosong
Apa dan kenapa aku ini

Aku bagai tukang sulap
Yang tau semua cerita dan akhir
Seakan crita mu oleh orang orang hanya membenarkan
Yang sudah ku tahu dari mu, bukan orang lain
Sama sekali tak ada negatif
Begitu juga yang ku percaya

Sungguh aneh, tapi terjadi
Menjadi kan ku bercermin, akan kah aku sehebat diri mu
Tentu dengan kepribadian ku sendiri

Engkau hebat


Jejak (tak) hilang

Berlayar jauh menembus waktu
Hilang dan kembali ke tempat yang sama
Menapaki jejak seseorang
Haruskah ku jawab

Aku sudah tak tau
Engkau apa dan bagaimana

Jejak mu banyak ku lewati
Critamu bahkan masih terucap di kering daun
Seakan tak hilang dan tak mau hilang dari ku

Aku sudah tak tahu engkau

Tetapi tuntunan jalan ini
Selalu engkau

Salahkah atau hanya kebetulan

Mungkin diri ini butuh waktu untuk bangkit dan ikhlas, lalu mulai senyum yang baru
Dan tak menyulitkan bunga bunga mekar terjual

Semoga kebaikan untuk kedepan bukan hanya ucapanku
Baik hati baik perbuatan baik pikiran dan baik untuk orang lain

Mungkin sekarang masih ad awan kisah mu
Ap yang bisa ku bantu ku ingin
Tapi aku pun belum bisa sepenuhnya berdiri
Akan kah kuat membantumu
Atau malah menjatuhkan kue manis yang kau suruh aku bawakan
Kecewa mudah saja muncul pada diri yang belum positif ini


Minggu, 06 Maret 2016

Pulang

Jaket ku gantung
Kipas angin ku nyalakan
Saklar hitam ku pencet nyala lampu meja
Harum wangi parfum mulai mengisi ruang

Ku tuang air dalam botol kedalam gelas
Meminum seteguk demi seteguk
Lalu berbaring
Memejamkan mata
Lelah


Senin, 15 Februari 2016

Masa lalu

Hingga saat terendah ku
Masih saja muncul

Hingga saat tersulit ku
Masih saja terbayang

Ketika diri hilang senyap
Timbul selalu

Pikir dalam dasar
Kenapa kau terjebak
Tak kah kau mau pergi dari imajinasi
Ikhlas dalam kenyataan


Rabu, 10 Februari 2016

Menanti pelangi

Rumah mu merah muda
Dengan atap cokelat tinggi menjulang bercerobong
Jendela dua pintu terbuka pagi hari
Engkau muncul dengan senyum
Rambut hitam tergerai

Kau pandangi matahari
Burung berpindah pohon lalu bersiul
Kedua tangan memangku kepala yang sedikit kau miringkan
Lalu memulai lamunan

Rumput hijau yang kau idamkan
Dengan taman bunga di sudutnya
Menari..
Berlari..
Bahkan terbang mengikuti irama kupu-kupu
Dan tertawa hingga habis tenaga

Percaya..
Menjadi nyata


Tanjakan seekor Itik

Sebut saja aku sebuah nama
Indah nan menarik
Unik kadang menggelitik

perhatian dengan mata lentik
Kala heran kagum melirik

Diam serius tak berkutik
Sesekali melempar senyum pandang bagai manik

engkau cantik


Senin, 25 Januari 2016

Buka mata

Pagi di musim hujan
Mendung langit tak semangat
Bunga tetap bermekaran
Api menyala melahap tumpukan kayu


Rabu, 20 Januari 2016

Fatamorgana

Sebuah alunan musik
Memunculkan seklumit kisah
Membuat sebuah faramorgana
Dalam bingkai pikiran terbatas

Sepenggal demi sepenggal
Memori terbayang
Ada bintang merona
Hiasi bagai tiap foto dalam album

Tertawa
Canda
Senyuman


Kamis, 14 Januari 2016

Jalan kaki

Ya seperti biasa
Selalu diawali pada pagi hari
Jalan jalan paling damai

Menyusuri jalan
Kendaraan berlalu lalang
Ada ontel ada becak
Ada motor ada mobil
Dan ada pula bapak renta yang menyiapkan tokonya

Ku giring diri ku memasuki pusat ekonomi rakyat
Ya sebuah pasar dekat tugu putih itu
Sepertinya pasar pun terasa tak cukup didalam hingga trotoar dan jalan terhampar penuh pedagang
Entah apa yang sebenarnya, tapi nenek nenek masih banyak berjualan
Apalah aku yang muda ini kalau tak berkarya
Senangnya melihat berbagai macam sayur dan buah-buahan tersaji
Merah hijau oranye entah dari mana asalnya

Disudut terlihat si ibu berjongkok memilah cabai rawit yang sebagian mulai rusak membusuk
Tampak sibuk sembari menunggu pembeli

Juru parkir menata motor sedemikian rupa hingga jalanan bisa dilewati satu mobil saja
Mungkin lain kali aku masuk ke dalam pasar..
Hari ini pedagang di trotoar sudah cukup bagiku tuk sebuah semangat dan tetap merendahkan hati
Hidup itu berjalan, berputar, dan tak pernah diam
Selamat pagi..


Dalam diam

Hei kamu
Kenapa masih saja terlihat menangis
Merah hidung dan bekas matamu yang masih menyimpan sisa air mata semalam
Masih terlihat oleh ku

Buat apa kau sembunyikan dalam diam
Andai saja aku masih boleh tahu
Tentu hatimu berusaha mengelak
Sama tahu untuk hal itu

Kau dekatkan dirimu kepada tuhan
Tuk membantu kuatkan hati dan jiwa
cukup kah kau menangis tanpa bercerita pada ku
Aku yang selalu bertanya dalam pikiran
Tak tahu
Entah kapan

Selalu malam..
Biasanya..

Jogja, Jan 2016


Sabtu, 09 Januari 2016

Masih sama #Januari

Hari ini minggu
Di bulan Januari
1 hari sebelum 11 Januari

Aku masih sama
Tak berubah pada posisi sekarang
Tampak kosong
Belum berarah

Mungkin karena pagi tak sejuk lagi
Atau aku yang harus mandi lebih pagi
Berharap muncul energi baru

Masa depan kan lebih baik
Jika kau pakai waktumu sekarang
Dengan berbuat baik


Minggu, 03 Januari 2016

Akhir Bulan Desember

Ku santaikan badan dan pikiran
Berusaha terlihat damai
Tuk menahan lubang yang terbuat

Beberapa kali sepi
Mengundang bayanganmu
Yang jauh tak mudah bahkan tak bisa ku gapai lagi

Pun tak tahu kapan kan benar-benar tertutup

Pernak-pernik buah cipta masih tersimpan
Mungkin sudah tak berinspirasi

Dalam diam ku berpikir dan berdoa
Semoga yang terbaik dan selalu lebih baik kedepannya